728 x 90



Kurang Produktif Cetak Pekerja Tersertifikasi, BNSP Minta LSP Lebih Tingkatkan Kinerja

  • 29 July 2017
Kurang Produktif Cetak Pekerja Tersertifikasi, BNSP Minta LSP Lebih Tingkatkan Kinerja

Jakarta - Tenaga kerja dunia industri dan jasa di Indonesia yang memiliki sertifikat kompetensi jumlahnya masih minim. Hal ini membuat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) meminta seluruh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang ada di Indonesia untuk meningkatkan kinerjanya dalam mecetak tenaga kerja yang bersertifikat.

Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Ajat Darajat, mengatakan, LSP Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) Indonesia merupakan LSP ke-139 yang sudah terlisensi di Indonesia dan merupakan ke-5 terkait K3.

Ajat mengharapkan, pembentukan LSP K3 Indonesia tidak menambah daftar panjang lembaga sertifikasi yang tidak produktif dalam menghasilkan tenaga kerja yang kompeten di dunia tenaga kerja Indonesia.

"Dari 127 juta angkatan kerja yang ada di Indonesia, LSP yang ada sekarang baru menserrtifikasi 2,8 juta angkatan kerja, ini kondisi yang dangat memprihatinkan" ujar Ajat pada saat pemberian lisensi pada LSP K3 Indonesia di Hotel Whiz, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (21/10) siang.

Menurut Ajat, untuk meningkatkan percepatan sertifikasi pekerja diperlukan pengoptimalkan 139 LSP untuk menghasilkan sertifikasi.

"Selama ini penilaian kita kepada LSP hanya kepatuhan tetapi tidak berjalan. Mulai tahun ini kami akan membuat indikator baru yakni performa. Bila LSP performanya buruk, maka akan kami cabut lisensinya," ungkap Ajat.

Ajat mengungkapkan, inti dari fungsi LSP adalah menjamin kualitas dari tenaga kerja dan bukan kuantitasnya. "Oleh sebab itu kami juga akan memberikan lisensi pada 127 LSP di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan, dengan pemberian lisensi diperketat," lanjut Ajat.

Menurut Ajat, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang banyak, namun tidak memiliki standar kerja kompetensi yang sama. "Target kami di tahun 2019, kami bisa mewujudkan 20 juta tenaga kerja yang mendapatkan sertifikasi kompetensi dan menciptakan dunia tenaga kerja di Indonesia yang melihat sertifikasi sebagai sebuah kebutuhan," kata Ajat.

Masih dikatakan Ajat, peran LSP adalah menjamin quality control dunia industri. Oleh sebab itu, LSP menjadi ujung tombak dalam mencetak pekerja di dalam menghadapi tantangan globalisasi dan pasar bebas.

Sementara itu, Sekretariat Jenderal Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemnakertrans), Abdul Wahab Bangkona, menyampaikan, harapannya agar lembaga sertifikasi LSP K3 jangan dijadikan sebagai lembaga tempat cuci.

"Diharapkan pengujian Sertifikasi benar-benar dilakukan dengan baik, nanti Kadin tentu akan mengecek apakah sertifikasi yang dihasilkan oleh lembaga ini benar-benar valid," ujar Abdul.

Abdul juga berharap, agar pembentukan lembaga tersebut jangan saling mengintervensi berbagai kepentingan lembaga yang lain. "LSP nanti ke depannya akan diuji kompetensinya. Apakah benar-benar akan melayani pelatihan K3 di seluruh Indonesia," tambah Abdul.

Abdul menyampaikan, pentingnya K3 dalam dunia usaha sangat penting bagi dunia usaha dan industri. "Kami akan memberikan dukungan kepada BNSP untuk memberikan pelatihan dan kompetensi serta standar mutu yang baik," kata Abdul.

Menurut Abdul, pentingnya K3 membuat materi mengenai hal tersebut sebaiknya dimasukkan ke dalam sistem kurikulum pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). "Bila materi mengenai K3 dimasukkan dalam pendidikan, diharapkan para siswa yang terbentuk dari institusi pendidikan memiliki kemampuan dan keahlian yang semakin lengkap sehingga semakin mudah diserap oleh pasar yang dibutuhkan dunia usaha," tandas Abdul.

Sedangkan, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Tenaga Kerja, Benny Soetrisno, mengapresiasi pembentukan lembaga sertifikasi K3 yang merupakan sebuah prasyarat di dunia usaha dan industri dalam menjamin tenaga kerja lebih produktif.

"Kami juga akan ikut aktif dalam memberikan saran dan input bagi LSP K3 terutama dalam pemberdayaan sumber daya manusia," ujar Benny.

 

sumber: beritasatu.com